Jumat, 16 Oktober 2015

BUAT CALON IMAMKU

Wahai Calon Imamku Yang Akan Bertahta Di Hatiku

Di tengah lelahnya hati ini, izinkan aku tetap menunggu dengan iman yang terus ku perbaiki..

Meski kadang godaan rasa putus asa terus menghinggap dihati..
Aku hanya perlu menyandarkan cinta dan harapan pada Allah..

Karena menyandarkan harapan pada manusia hanya akan menemui kekecewaan..

Biarkan penantian yang aku sendiri belum tahu kapan berakhirnya ini menjadi ladang ibadah yang disediakan Allah untukku..
Aku akan bersabar menunggumu meski kadang hati terasa lelah..

Namun ku tetap bersabar menjaga izzah dan iffahku..
Bukankah Allah telah berjanji perempuan yang baik untuk lelaki yang baik..

Maka dengan itulah aku berusaha ingin memperbaiki diriku,
Sebelum aku bertemu denganmu "Wahai Calon Imamku Yang Akan Bertahta Di Hatiku"

IRANG KAFIR KAYA DAN HIDUP MEWAH

Mengapa Orang kafir Kaya Dan Hidup Mewah?

Mungkin pernah terbetik di dalam benak kita, kenapa kita yang seorang muslim, hidupnya jauh lebih sengsara, ketimbang mereka yang hidup di dalam kekafiran. Padahal seorang muslim hidup di atas keta’atan menyembah Allah ta’ala, sedangkan orang kafir hidup di atas kekufuran kepada Allah.

Wahai saudaraku seiman, janganlah heran dengan fenomena ini. Karena seorang shahabat Nabi yang mulia pun terheran sambil menangis. Beliau adalah ‘Umar bin Al-Khattabradhiyallahu ‘anhu. Berikut ini kami nukilkan kisah ‘Umar yang termuat dalam kitab Tafsir Surat Yasin karya Syaikh Ibnu ‘Utsaiminrahimahullah.

Suatu hari ‘Umar mendatangi rumah Nabishallallahu ‘alaihi wa sallam. Dan beliau sedang tidur di atas dipan yang terbuat dari serat, sehingga terbentuklah bekas dipan tersebut di lambung beliau. Tatkala ‘Umar melihat hal itu, maka ia pun menangis. Nabi yang melihat ‘Umar menangis kemudian bertanya, “Apa yang engkau tangisi wahai ‘Umar?”

‘Umar menjawab, “Sesungguhnya bangsa Persia dan Roma diberikan nikmat dengan nikmat dunia yang sangat banyak, sedangkan engkau dalam keadaan seperti ini?”

Nabi pun berkata, “Wahai ‘Umar, sesungguhnya mereka adalah kaum yang Allah segerakan kenikmatan di kehidupan dunia mereka.”[1]
Di dalam hadits ini menunjukkan bahwa orang-orang kafir disegerakan nikmatnya oleh Allah di dunia, dan boleh jadi itu adalah istidraj[2] dari Allah. Namun apabila mereka mati kelak, sungguh adzab yang Allah berikan sangatlah pedih. Dan adzab itu semakin bertambah tatkala mereka terus berada di dalam kedurhakaan kepada Allah ta’ala.

Maka saudaraku di jalan Allah, sungguh Allah telah memberikan kenikmatan yang banyak kepada kita, dan kita lupa akan hal itu, kenikmatan itu adalah kenikmatan Islam dan Iman. Dimana hal ini yang membedakan kita semua dengan orang kafir. Sungguh kenikmatan di dunia, tidaklah bernilai secuil pun dibanding kenikmatan di akhirat.

Mari kita bandingkan antara dunia dan akhirat, dengan membaca sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Demi Allah! Tidaklah dunia itu dibandingkan dengan akhirat, kecuali seperti salah seorang dari kalian yang mencelupkan jarinya ke lautan. Maka perhatikanlah jari tersebut kembali membawa apa?” (HR. Muslim)

Lihatlah kawanku, dunia itu jika dibandingkan dengan akhirat hanya Nabi misalkan dengan seseorang yang mencelupkan jarinya ke lautan, kemudian ia menarik jarinya. Perhatikanlah, apa yang ia dapatkan dari celupan tersebut. Jari yang begitu kecil dibandingkan dengan lautan yang begitu luas, mungkin hanya beberapa tetes saja.

Kamis, 30 April 2015

DOA UNTUK ORANG TUAKU

DOA UNTUK KEDUA ORANG TUAKU
Teruntuk yang tercinta kedua orang tuaku, dua makhluk terhebat yang sangat berperan didalam kehidupanku hingga saat ini. Kasih sayangnya tak tergantikan dan takkan pernah bisa dibeli dengan apapun, karena mereka begitu tulus mencintai bahkan disaat mereka belum melihat wujudku.
Ibuku bidadariku, seseorang yang mengandungku dan menjaga kesehatan kandungannya demi menanti hari kelahiran buah hatinya ke dunia. Ketika pertama kali tangisanku terdengar, sungguh tak mudah ibuku untuk berjuang sehingga aku pun mampu terlahir ke dunia ini. Ibuku, mempertaruhkan nyawanya ketika melahirkanku, tetesan keringat dan tenaga yang terkuras berganti senyum kebahagiaan tatkala buah hatinya memperlihatkan jasadnya dihadapannya selama sembilan bulan hanyalah bisa dirasakan dengan naluri dan hatinya bahwa aku hidup didalam janinnya.
Ayahku pahlawanku, jasanya tak bisa dilepaskan pula dari semua itu, bagaimana dia melangkahkan kaki untuk pergi demi tugasnya dan kembali kerumah demi cintanya dan bahkan ketika dia belum menyentuh ragaku di pangkuannya. Dia menafkahi istrinya, ikut menjaganya dan membantu meringankan tugas dirumah ketika sang istri sedang mengandung buah hatinya.
Hari berganti dan waktu pun telah banyak yang terlewati, ketika aku mulai tumbuh mungkin sudah terlalu banyak membebani mereka dengan tangisan yang berarti sebuah permintaan yang selalu saja mereka lturuti demi kebahagiaanku. Mereka rela terbangun dari tidurnya dan melawan rasa kantuk dengan tetap melayani keinginan bayi kecilnya dengan segala cara sehingga berhenti menangis, bahkan ketika malam yang seharusnya menjadikan mereka istirahat dengan tenang.
Ketika melewati masa remaja dan hingga menjadi dewasa sekarang ini, kebutuhan hidup bertambah dan tanggung jawab mereka pun semakin berat. Sungguh besar jasa mereka untukku, tapi terkadang aku tak pernah menyadari bahwa sudah terlalu banyak sikapku yang melukai hati kedua orang tuaku. Mereka sungguh mulia, sebesar apapun kesalahanku tetap saja mereka membuka pintu hatinya untuk memaafkanku.
Wahai ayah dan ibuku, ada da tiadamu takkan menghentikan kerinduanku terhadap kalian. Aku hanya bisa persembahkan doa agar kalian selalu  dikasihi oleh sang Maha Pengasih,  sebagaimana kalian telah mendidikku sewaktu kecil. Percayalah, dalam hatiku selalu berkata bahwa Aku menyayangi kalian hingga kapanpun meskipun hanya kulakukan dengan cara yang mungkin tak berbanding dengan besarnya jasa kalian terhadapku.

Jumat, 03 Oktober 2014

PACARAN ITU DOSA

Assalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh
Pacaran itu main-main, tiap romantisnya itu bawa dosa.
Nikah itu serius, tiap romantis menambah cinta dan pahala.
Jadi, udah jelas kan?
Perempuan bijak pasti gak mau dibuat mainan.
Perempuan shalihah pasti takut dosa.

====================
Kalo ada yg bilang: "Usia segini masih jomblo? Malu kali non". Jawab aja: "Hari gini masih pacaran? Dosa kali non"
Kalo ada yg bilang: "Jomblo kok bangga. Jangan2 nggak laku". Jawab aja: "Pacaran kok bangga, dosa tahu"
Saat kau mengeluh: "Oh my God, kenapa Kau biarkan aku terus menjomblo".
Seolah-olah Tuhan menjawab: "Hambaku, itu agar kau terhindar dari dosa pacaran".
Saat kau ngeluh: "God, hamba malu sama teman2 yg punya pacar".
Seolah-olah Tuhan jawab: "Hambaku, mengapa kau malu pada mereka yg tak malu pada-Ku".
Saat kau ngeluh: "Tuhan, hamba kan juga berhak jatuh cinta".
Seolah-olah Tuhan jawab: "Aku tak mengharamkan cinta. Hanya saja jalani dgn indah, dgn halal, dgn nikah".
Saat kau ngeluh: "Ya Allah, gimana aku dapat jodoh kalau gak pacaran?".
Seolah-olah Allah jawab: "Hamba-Ku, sudahlah, jangan pernah ragu pada Kuasa-Ku".
Ada yg bilang, "Kalo gak pacaran, gimana kita bisa kenal calon suami/istri kita?".
Kawanku, pacaran puluhan tahun, tak kan menjanjikan perkenalan yg benar dan utuh. Karena saat pacaran, yg nampak seringkali hanyalah topeng.
"Cinta adalah putra dari cocoknya jiwa. Dan jika itu tiada, cinta tak kan pernah tercipta dalam hitungan tahun, bahkan milenia".
Maka kawanku. Jika sudah siap, khitbah dia. Jika belum siap, putuskan dia. Peliharalah sucinya cinta. Jangan lama berhubungan dalam dosa.
Barangsiapa yg nikah karena takut maksiat & menggapai ridho Allah, maka Allah yg 'turun tangan' untuk memapankan, menyukseskan, memudahkan. Itu janji-Nya.
Ahmad Rifai Rifan

-